Pemberontakan APRA

Posted on

Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) – Hay sahabat semua.! Diperjumpaan kali ini akan kembali Quipper.co.id sampaikan materi pembahasan tentang Latar Belakang, Tujuan, Dampak dan Akhirnya. Namun pada perjumpaan sebelumnya, yang mana kami juga telah menyampaikan pembahasan mengenai Pemberontakan RMS. Nah untuk lebih jelasnya, yuk simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Pengertian Apra Angkatan Perang Ratu Adil

Pemberontakan APRA
Pemberontakan APRA

Apa yang dimaksud dengan APRA atau Angkatan Perang Ratu Adil ? yakni merupakan sebuah singkatan dari kata Angkutan Perang Ratu Adil. 

Yang mana dalam istilah Angkutan Perang Ratu Adil disingkat yakni menjadi APRA.

Kemudian pada istilah APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) juga ialah merupakan sebuah singkatan yang akronimnya secara resmi dalam Bahasa Indonesia. 

Latar Belakang Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)

Perdana Menteri RIS, DRS. Moh. Hatta
Perdana Menteri RIS, DRS. Moh. Hatta

Pada saat berlangsungnya Gerakan APRA yang mana pada kala itu langsung dipimpin oleh Raymond Westerling sudah berhasil dalam sebuah aksi pembunuhan hingga sampai menjatah ratusan prajurit dari divisi Siliwangi.

Bahkan pada saat itu juga Westerling telah membentuk suatu rencana untuk melakukan penyerangan keJakarta dan akhirnya melakukan kerja sama oleh pemerintah Sultan Hamid II.

Kemudian di dalam rencana tersebut juga dimana mereka ingin melakukan penculikan dan juga pembunuhan terhadap semua para menteri dari pemerintahan RIS.

Namun upaya tersebut berhasil digagalkan oleh APRIS dimana upaya yang dilakukan oleh APRIS yakni dengan cara mengirimkan semua anggota kesatuan yang berasal dari jawa timur dan jawa tengah.

Namun bukan itu saja,yang mana pada saatjuga Perdana Menteri dari RIS yang bernama Drs. Moh. Hatta pada akhirnya melakukan sebuah rundingan yang diiringi bersama dengan Komisaris Tinggi Belanda.

Hingga kemudian , salah satu dari komandan tentara belanda yang ada di Bandung kala itu yang bernama Mayor Jenderal Engels melakukan sebuah desakan terhadap Westerling agar dapat pergi dan meninggalkan kota Bandung.

Hingga pada akhirnya beberapa yang tersisa dari kekuatan pasukan APRA yang ada di bandung telah berhasil ditaklukan oleh tentara APRIS.

Kemudian berdasarkan perkembangan yang berlangsung, bahwa sudah diketahui mengenai salah satu tokoh yang kala itu mempunyai peran yang ada dibelakang gerakan APRA ialah Sultan Hamid II dengan jabatannya sebagai seorang Menteri dari Negara kabinet RIS.

Adapun pada intinya tujuan dari adanya rencana gerakan ini ialah untuk melakukan penculikan terhadap semua mentri serta melakukan pembunuhan terhadap Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang kala itu (sebagai menteri pertahanan keamanan), lalu Mr. Ali Budiardjo (Sekjen Kementrian Pertahanan Keamanan), dan juga salahs seorang Kolonel T.B Simatupang yang merupakan (Kepala Staf Angkatan Perang).

Akan tetapi dalam upaya perencanaan yang akan dilakukan tersebut tidak menuai hasil yang sebagai mestinya telah direncanakan.

Dimana hal tersebut disebabkan dengan adanya keberhasilan yang dilakukan terhadap anggota APRIS dalam melakukan penumpasan APRA sehingga membuat keamanan yang ada diwilayah jawa barat telah berhasil dipulihkan kembali.

Dengan adanya berbagai Pemberontakan yang sudah dilakukan oleh gerakan APRA tersebut memang dirasa cukup mengganggu terhadap stabilitas dan juga proses integrasi rakyat Indonesia.

Selain itu juga dalam adanya pergolakan tersebut tidak hanya disebabkan oleh adanya perbedaan ideology dan juga pangan.

Namun terdapat sebuah kepentingan serta tujuan yang dirasa tidak sesuai dan sama hal tersebut erupakan suatu pemicu yang akhirnya mendorong terjadi berbagai konflik ditengah masyarakat.

Namun bukan hanya itu saja , yang melatar belakangi terjadi pemberontakan atas gerakan APRA ialah dengan adanya suatu rasa ketidak puasan terhadap semua para pejuang dengan segala kebijakan yang diberikan oleh pemerintah RIS (Republik Indonesia Serikat).

Kemudian sebagai salah satu negara federal yang mana dalam pembentukannya dengan didasarkan suatu usulan dari pemerintah belanda pada saat KMB (konferensi meja bundar), seperti yang kita ketahui bahwa RIS ialah merupakan sebuah negara yang terbilang sangat rapuh.

Apalagi di dalam pembentukan RIS juga yang mana dibangun dengan berdasarkan berbagai kepentingan yang memang saling bertolak belakang. Bakhan pada kala itupun bangsa Belanda masih dapat dipengaruhi oelh RIS.

Tujuan Pemberontakan APRA

Adapun Tujuan dari APRA ialah guna menjaga serta mempertahankan dari bentuk Negara Federal Pasundan di Indonesia dan menjaga adanya tentara sendiri pada setiap negara bab Republik Indonesia Serikat.

Dimana pada kala itu APRA memohonkan sebuah ultimatum dengan bentuk suatu tuntutan agar APRA bisa mendapat pengakuan sebagai Tentara Pasundan dan menolak untuk dibubarkannya Pasundan atau negara Federal tersebut.

Kemudian adanya Ultimatum tersebut tak mendapat tanggapan dari pemerintah, sehingga akhirnya sekitar pada tanggal 23 Januari 1950 berlangsung di Bandung APRA melkaukan sebuah teror, namun aksi tersebut berhasil dihentikan.

Kemudian yang menjadi dalang dibalik terjadi gerakan APRA ini yakni oleh Sultan Hamid II yang saat itu berada di Jakarta.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dari direncanakannya gerakan ini di Jakarta ialah agar dapat melakukan penangkapan atas sejumlah menteri Republik Indonesia Serikat yang saat itu sedang dalam menghadiri suatu sidang kabinet dan juga dalam upaya pembunuhan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, lalu salah seorang Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Mr. A. Budiardjo, dan juga seorang Pejabat yang merupakan kepala Staf Angkatan Perang Kolonel T.B Simatupang.

Baca Juga :   Peta Persebaran Flora di Indonesia

Hal tersebut tak berlangsung dengan sempurna, pasalnya adanya rencana tersebut telah diketahui dan akhirnya pemerinta mengambil tindakan preventif, sehingga membuat sidang kabinet yang sedang berlangsung kala itu ditunda.

Kemudian Sultan Hamid II akhirnya berhasil ditangkap sekitar pada tanggal 4 April 1950.

Namun saat itu, Westerling telah berhasil meloloskan diri dan bergegas pergi ke luar negeri.

Jalannya Pemberontakan APRA

Pada saat berlangsungnya pemberontakan yang dilakukan oleh Angkatan Perang Ratu Adil atau (APRA) yang kala itu langsung dipimpin oleh salah seorang mantan Kapten KNIL yang bernama Raymond Westerling bukanlah suatu pemberontakan yang dilangsungkan dengan secara spontan.

Namun aksi dari Pemberontakan ini sebelumnya sudah direncanakan dari beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan hal tersebut sudah diketahui oleh salah seorang pemimpin tertinggi militer Belanda.

Kemudian ketika pada tanggal 25 Desember 1949 malam hari, diperkirakan sekitar pada pukul 20.00 Westerling melakukan sebuah komunikasi terhadap Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, yang merupakan salah seorang Panglima Tertinggi Tentara Belanda untuk meminta pendapat dari van Vreeden mengenai suatu rencana dalam melakukan sebuah kudeta yang ditujukan teradap Soekarno yang akan dilancarkan setelah proses penyerahan kedaulatan dari Belanda terhadap Indonesia.

Disamping itu juga Van Vreeden memang sudah banyak mendengar berbagai rumor, yang diantaranya yakni bahwa akan ada suatu anggota militer yang akan menghambat proses jalannya penyerahan kedaulatan, namun tidak terkecuali juga mengenai rumor atas pasukan yang dipimpin oleh Westerling.

Dimana pada saat itu Jenderal van Vreeden, merupakan salah seorang yang berperan penting yang bertugas untuk menjaga kelancaran proses penyerahan kedaulatan yang akan dilangsungkan pada 27 Desember 1949 tersebut dan akhirnya ia memberi peringatan terhadap Westerling supaya ia tidak melakukan tindakan seperti apa yang sudah diungkapkan padanya.

Kemudian skeitar pada tanggal 5 Januari 1950, Westerling mengirim surat terhadap pemerintah RIS yang mana isi dari surat tersebut ialah sebuah ultimatum.

Dimana Westerling menuntut supaya pemerintah RIS bisa menghargai terhadap beberapa negara bagian, khusunya yakni pada Negara Pasundan dn juga Pemerintah RIS harus bisa mengakui bahwa APRA sebagai tentara Pasundan.

Terkait dengan hal tersebut dimana pemerintah RIS harus segera memberikan jawaban positif menganai ultimatum tersebut dalam kurun waktu 7 hari dan jika hal tersebut ditolak, maka akan berdamapak terjadi perang yang sangat besar.

Kemudian dengan adanya Ultimatum dari Westerling tersebut tentunya menyebabkan adanya kegelisahan tidak saja di kalangan RIS, akan tetapi dari pihak Belanda dan juga dr. H.M. Hirschfeld, lalu Nederlandse Hoge Commissaris yang merupakan salah seorang (Komisaris Tinggi Belanda) yang kala itu baru tiba di Indonesia.

Kemudian akhirnya Kabinet RIS menghujani Hirschfeld dengan bermaca-macam pertanyaan sehingga membuatnya menjadi sangat tidak nyaman.

Dan akhirnya Menteri Dalam Negeri Belanda, yakni Stikker menginstruksikan terhadap Hirschfeld agar dapat melakukan tindakan atas semua pejabat sipil dan militer Belanda yang masih saling bekerjasama dengan Westerling.

Selanjutnya sekitar pada tanggal 10 Januari 1950 dimana saat itu Hatta menjelaskan terhadap Hirschfeld, bahwa pihak Indonesia sudah mengeluarkan sebuah perintah mengenai penangkapan yang akan dilakukan terhadap Westerling.

Namun sebelumnya, pada saat Lovink kala itu masih menjabat sebagai salah satu Wakil Tinggi Mahkota (WTM), ia memberikan saran terhadap Hatta agar dapat menggunkana pasal exorbitante rechten untuk Westerling.

Namun sementara itu, Westerling mulai melakukan kunjungannya terhadap Sultan Hamid II di Jakarta.

Yang mana sebelumnya, mereka sudah pernah melakukan pertemuan yang terjadi pada bulan Desember 1949.

Pada saat itu Westerling menjelaskan akan tujuannya, dan ia meminta agar Hamid bisa menjadi pemimpin dari gerakan tersebut.

Namun saat itu Hamid ingin mengetahui secara deatail mengenai organisasi yang dibentuk oleh Westerling tersebut.

Namun dia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Westerling. Sehingga pada Pertemuan hari itu tidak memperoleh sebuah hasil apapun.

Selanjutnya diperkirakan pada pertengahan bulan Januari 1950, Dimana saat seorang Menteri UNI dan juga Urusan Provinsi Seberang Lautan, yakni Mr.J.H. van Maarseven melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangkan menyiapkan pertemuan Uni Indonesia dan Belanda yang akan dilangsunkan pada bulan Maret 1950.

Kemudian Hatta sudah menjelaskan kepada Maarseven, bahwasannya ia sudah memberikan perintah kepada segenap kepolisian agar dapat melakukan penangkapan terhadap Westerling.

Pada saat melakukan kunjungan ke Belanda, dimana pada saat itusalah seorang Menteri Perekonomian RIS Juanda sekitar pada tanggal 20 Januari 1950 menyampaikan terhadap salah seorang Menteri Götzen, supaya semua pasukan elit RST yang diduga merupakan sebagai faktor risiko, agar bisa dengan segera dievakuasi dari Indonesia.

Namun sebelumnya, dimana pada saat satu unit pasukan RST sudah terlebih dahulu dievakuasi ke Ambon sekitar pada tanggal 17 Januari 1950.

Kemudian sekitar tanggal 21 Januari Hirschfeld menyampaikan terhadap Götzen mengenai Jenderal Buurman van Vreeden bersama dengan salah seorang Menteri Pertahanan Belanda yakni Schokking sudah menggodok suatu rencana agar dapat mengevakuasi pasukan RST.

Akan tetapi dalam usaha untu melakukan evakuasi terhadap Reciment Speciaale Troepen, yang merupakan dari sekelompok gabungan baret merah dan baret hijau tersebut sudh sangat terlambat untuk dilakukan.

Dan Westerling akhirnya mendengar tentang rencana itu dari sejumlah bekas anak buahnya, sehingga sebelum dilakukan deportasi terhadap pasukan RST ke Belanda dilangsungkan, maka pada tanggal 23 Januari 1950 akhirnya Westerling melancarkan aksi “kudetanya.”

Baca Juga :   Arti Mimpi Tentang Gajah

Diperkirakan saat subuh pada pukul 4.30 , dimana saat itu Letnan Kolonel KNIL T. Cassa melakukan kontak kemunikasi kepada Jenderal Engles untuk melaporkan: Bahwasannya “Satu pasukan kuat APRA sudah mulai melakukan pergerakan dengan melalui Jalan Pos Besar yang menuju langsung ke Bandung.”

Akan tetapi adanya laporan dari Letkol Cassa tersebut tidak membuat Engles terkejut, oleh sebab pada sebelumnya, sekitar 22 Januari pukul 21.00 dia sudah terlebih dahulu mendapat laporan, bahwa mengenai beberapa kelompok dari pasukan RST dengan berbagai persenjataan berat telah melangsungkan sebuah desersi dan bergegas meninggalkan tangsi militer di Batujajar.

Kemudian pada Mayor KNIL G.H. Christian dan juga Kapten KNIL J.H.W. Nix memberi laporan , bahwa mengenai “compagnie Erik” yang pada saat itu sudah berada di Kampemenstraat juga akan melangsungkan desersi pada malam itu dan akhirnya mulai bergabung dengan APRA agar dapat ikutserta dalam kudeta tersebut, akan tetapi hal tersebut bisa segera digagalkan oleh komandannya sendiri, yakni Kapten G.H.O. de Witt.

Kemudian Engles mulai bergegas untuk membunyikan sebuah alarm yang sangat besar dan bergegas untuk melakukan komunikasi terhadap Letnan Kolonel TNI Sadikin, yang merupakan seorang Panglima dari Divisi Siliwangi. Dan kemudian Engles juga menjelaskan mengenai kejadian ini terhadap Jenderal Buurman van Vreeden di Jakarta.

Namun pada awalnya semua penduduk yang ada dikota Bandung tidak menaruh rasa curiga sebab sal itu merupakan sebuah hal yang biasa tentara hilir mudik keluar masuk kota Bandung pada masa itu, meskipun Perang terhadap kemerdekaan sudah dianggap berakhir.  

Dimana pada sat itu Tentara APRA mengenkan berbagai truk, lalu jeep, motorfiets, dan juag banyak diantaranya yang berjalan kaki dengan mengenakan seragam serta berbagai persenjataan cukup lengkap dan diperkirakan berjumlah sekitar 500 hingga 800 personel.

Akan tetapi pada saat mereka melkukan suatu steling pada setiap gang-gang yang ada di sepanjang jalan Cimahi yakni Bandung dengan sambil melepas berbagai tembakan ke udara.

Dan bahkan banyak di antaranya yang mengarahkan tembakannya  kesetiap rumah penduduk.

Maka dengan kejadian tersebut akhirnya membuat semua warga yang ada dilokasi tersebut menjadi sangat cemas dan was-was.

Namun disamping itu bebbebrapa jumlah polisi terlihat mulai melakukan penjagaan disetiap pos-pos yang ada disepanjang jalan raya Cimindi-Cibereum dan kemudian dilucuti senjatanya.

Kemudian ketika sesampainya di kota maka disanalah kepanikan rakyat mulai semakin menjadi-jadi, bersamaa dengan hal tersebut banyak toko dan rumah melakukan penutupan sehingga membuat jalanan menjadi sangat sepi.

Kemudian terlihat di setiap jalan dan perapatan Banceuy, seorang TNI yang sedang mengendarai sebuah mobil jip dengan tidak memegang senjata diberhentikan.

Dan pada tentara itu disuruh turun dan juga mengangkat kedua tangan lalu dengan bengis dan kejamnya mereka menembak mati tentara tersebut. 

Kemudian pasukan APRA mulai melakukan pergerakan di Jalan Braga, tepat di depan muka Apotheek Rathkam terlihat sebuah mobil sedan juga kemudian diberhentikan. 

Kemudian dari kettiga penumpang tersebut juga disuruh untuk turun, yang man di antaranya ada salah seorang perwira TNI. 

Dan pada tanda pangkat yang ada dibaju perwira tersebut kemudian diambil secara paksa lalu ia dibunuh.  Dan dari kedua orang sipil yang bersama tentara tersebut kemudian diangkut dengan truk.

Kemudian semua tentara APRA juga sedanga mengadakan sebuah aksi di depan Hotel Preanger. Dimana pada sat itu mereka melakukan penerangan terhadap sebuah truk yang di dalamnya berisi tiga orang prajurit TNI.

Kemudian adanya perlawanan yang dilakukan oleh TNI ini baru bisa berlangsung tepat di Jalan Merdeka, meskipun hal tersebut tidak seimbang. Kemudian setelah terjadi baku tembak-menembak diperkirakan berlangsung sekitar 15 menit, dimana saat itu 10 orang TNI gugur. 

Lalu selanjunya sejumlah tentara APRA juga melakukan penyerangan terhadap sebuah truk yang dikendarai oleh 7 orang serdadu TNI yang berlokasi di perempatan Suniaraja-Braga. Dimana pada saat itu Truk itu ditembaki dari berbagai arah depan dan belakang.

Sehingga kala itu terlihat perlawanan yang sangat hebat berlangsung di Kantor Kwartir Divisi Siliwangi Oude Hospitaalweg. 

Dari satu regu stafdekking TNI yang mana terdiri atas 15 orang yang dikomandani oleh Letkol (Overste ) Sutoko kemudian dikepung oleh tentara APRA yang jumlahnya cukup banyak. 

Kejadian tersebut merupakan yang sebenarnya pertempuran hingga sampai peluru terakhir.

Kemudian Letkol Sutoko,  dan juga Letkol Abimanyu serta seorang opsir lainnya bisa berhasil melolosakn diri. 

Namun yang lainnya sudah tewas. Sehingga markas tersebut telah berhasil diduduki dan terjadi perampokan yang dilakukan oleh tentara APRA atas brandkas sebesar F150.000.

Kemudian perlawanan juga berlangsung di kantor stafkwartier Divisi Siliwangi yakni bertempat di Jalan Lembang.

Dan pada Satu regu stafdekking TNI yang mana diantaranya terdiri atas 15 orang diketuai oleh Overste Sutoko secara tiba2 diserbu oleh ratusan APRA.

Pada pertempuran tersebut terjadi diperkirakan kurang lebih setengah jam. Bahkan Pertempuran berlangsung hingga sampai peluru yang terakhir.

Dan pada Everste Sutoko, lalu Abimanyu, dan juga salah seorang opsir lainnya telah berhasil menyelamatkan diri, namun yang lainnya lagi tewas.

Kemudian dari total Keseluruhan yakni 79 orang menajdi korban  kebrutalan atas sekelompok nggota ini.  Yang mana diantaranya yakni 61 serdadu TNI  dan juga 18 orang lainnya yang tidak diketahui namanya sebab mereka tidak memilik sebuah tanda atau identitas di dalam pakaiannya.

Baca Juga :   Tenis Lapangan

Penumpasan Pemberontakan APRA

Pada saat berlangsungnya pemberontakan APRA yang mana pada kala tidak ada perlawanan yang berarti, hal tersebut disebabkan dengan sejumlah faktor.

Yang paling utama, yakni dengan disebabkan adanya sebuah serangan yang dilakukan dengan secara tiba-tia, namun tidak ada pembalasan tembakan yang dilakukan sebab pada saat itu orang-orang APRA berbaur dengan orang dari KNIL dan juga KL.

Namun sedangkan yang melatar belakangi adanya aksi ini, yakni diduga bahwa gerakan APRA ingin mendukung berdirinya negara Pasundan, hal ini agar negara tersebut dapat berdiri tanpa adanya gangguan dari TNI dan menerapkan agar APRA yang bisa dijadikan angkatan perangnya.

Namun pada saat itu pasukan dari Divisi Siliwangi TNI dianggap masih belum siap sebab mereka baru saja memasuki Kota Bandung setelah perjanjian KMB.

Dimana pada saat berlangsungnya peristiwa tersebut Panglima Siliwangi yakni Kolonel Sadikin dan juga Gubernur dari Jawa Barat Sewaka sedang dalam melakukan sebuah peninjauan ke Kota Subang.

Dan bersamaan dengan peninjauan tersebut dimna di  Jakarta sedang dilakukan perundingan yang dilakukan oleh perdana mentri RIS dan Juga Komisaris Tinggi dari kerajaan belanda yang berlangsung pada pukul 11.00 bertempat di kantor Perdana Mentri RIS.

Kemudian Terungkap adanya keterlibatan tentara Belanda (diperkirakan sekitar 300 dari tentara Belanda sudah ditempatkan di antara pasukan APRA)  maka dengan adanay peristiwa tersebut yang berlangsung di Bandung , maka akhirnya diputuskan sebuah tindakan bersama.

Dimana pada akhirnya Jendral Engels memberikan perintah terhadap pasukan APRA agar segera kembali ke Batujajar, Hal tersebut baik disebabkan atas peritah dari atasannya, ataupun sebuah ancaman atas Divisi Siliwangi yang memberikan jaminan atas semua keselamatan dari warga Belanda yang berjumlah ribuan di kota Bandung. 

Kemudian pada hari itu juga pasukan APRA akhirnya meninggalkan Kota Bandung.  Selanjutnya pada operasi penumpasan dan pengejaran yang dilakukan terhadap gerombolan APRA yang saat itu sedang melakukan gerakan mundur segera dilakukan oleh TNI.

Dan sisa dari pasukan Wasterling saat itu berada di bawah pimpinan Van der Meulen yang mana bukan anggota KNIL Batujajar dan juga polisi yang menuju ke Jakarta, diperkirakan pada tanggal 24 Januari 1950 lalu dihancurkan oleh Pasukan Siliwangi pada saat berlangsungnya pertempuran di daerah Cipeuyeum dan sekitar Hutan Bakong dan juga dapat akhirnya bisa disita yang mana diantaranya terdapat beberapa truk dan pick up, dan di dalamnya terdapat tiga pucuk bren, lalu 4 pucuk senjata ukuran 12,7 serta berbagai karaben.

Kemudian sejak tanggal 24 Januari 1950 tepatnya tengah malam yang mana mulai terjadi baku tembak yang terjadi di Kramatalaan No.29 Jakarta antara pauskan TNI dengan segeromboan yang saat itu diduga ialah merupakan deseteurs yakni (anggota tentara yang telah berhasil melarikan diri dari dinas tentara). 

Dimana peristiwa baku tembak tersebut terjadi hingga sampai 25 januari 1950 pagi. 

Dan pada saat dilkukan penggerebekan dari pasukan tersebut telah berhasil merampas sekitar 30 pucuk owens-guns.

Kemudian sejak saat itu di kota Bandung juga telah dilangsungkan suatu pembersihan dan juga sebuah penahanan terhadap siapa saja mereka yang ikut terlibat dalam aksi gerakan tersebut, terutam ada sejumlah para tokoh dari Negara Pasundan.  

Dampak Dari Pemberontakan APRA

Dengan berdasarkan latar belakang dari adanya pemberontakan yang dilakukan oleh APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang pada saat itu dipimpin oleh Raymond Pierre Westerling dengan tujuan agar bisa memperoleh pengakuan atas pemerintah RIS sebagai tentara Pasundan.

Namun bukan hanya itu saja, dimana dilangsukannya pemberontakan ini juga mempunyai agar tetap bisa mempertahankan kedaulaan Reupblik Federal sebab kelompok ini tidak ingin menyerahkan kedaulatan serta mempunyai tentara sendiri terhadap negara yang ada dibagian RIS. Sehingga akhirnya dilangsungkanlah pemberontakan APRA ini di Bandung.

Dengan adanya pemberontakan ini, akhirnya APRA telah berhasil mengambil alih markas Kodam Divisi Siliwangi sekitar pada tanggal 23 Januari 1950 dan juga telah berhasil melakukan pembunuhan para tentara Indonesia yang bermaksud untuk melawan.

Adapun salah satu dari tentara yang telah terbunuh yakni seorang Letnan Kolonel Lembong yang gugur dalam peristiwa ini.

Sehingga akhirnya bandung pun mampu dikuasai untuk sementara oleh pasukan APRA hanya untuk beberapa jam.

Maka dalam berlangsungnya peristiwa tersebut juga mengakibatkan 79 orang dari anggota APRIS telah tewas dan juga sejumlah masyarakat yang ada disekitarnya akhirnya mnejadi korban dari kekejian pemberontakan ini.

Maka dengan berlangsungnya peristiwa ini didaerah Bandung sehingga akhirnya membuat pemerintah mengerahkan pasukan APRI ke Bandung dalam upaya menyapu bersih setiap gerakan pemberontakan APRA.

Hingga pada akhirnya dari gerakan dalam pemberontakan APRA tersebut berhasil ditaklukan dan ditumpas oleh APRI yakni (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Adanya kejadian tersebut merupakan sebuah konspirasi yang besar diantara Raymond Pierre Westerling dan Sultan Hamid II dari Pontianak. Pada saat pemberontakan yang di Bandung itu mulai berakhir, kemudian Jakarta yang menjadi target selanjutnya.

Apa yang dimaksud dengan APRA atau Angkatan Perang Ratu Adil ?

yakni merupakan sebuah singkatan dari kata Angkutan Perang Ratu Adil. Yang mana dalam istilah Angkutan Perang Ratu Adil disingkat yakni menjadi APRA.

Nah itulah yang bisa Quipper.co.id sampaikan mengenai pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil), semoga serangkaian pembahasan kali ini bisa bermnafaat untuk sahabat sekalian.

Baca Juga Artikel Lainnya :