Dalam khazanah tata bahasa Arab (Ilmu Nahwu), memahami struktur kalimat adalah kunci utama untuk membaca dan menerjemahkan teks Arab—terutama Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik—dengan benar. Jika dalam bahasa Indonesia kita mengenal struktur SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan), maka dalam bahasa Arab terdapat konsep yang serupa namun memiliki karakteristik yang jauh lebih kaya dan dinamis.
Salah satu elemen paling krusial dalam jumlah fi’liyyah (kalimat verbal) adalah Maf’ul Bih (مَفْعُوْلٌ بِهِ). Secara sederhana, Maf’ul Bih adalah komponen yang bertindak sebagai objek penderita. Namun, dalam Ilmu Nahwu, pembahasannya tidak sesederhana itu. Ada aturan i’rab, perubahan harakat, posisi yang bisa berpindah, hingga makna-makna tersembunyi di balik strukturnya.
Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal tentang Maf’ul Bih secara mendalam, mulai dari definisi dasar hingga rahasia balaghah di baliknya.
Daftar Isi :
1. Apa itu Maf’ul Bih? (Definisi Lengkap)

Secara etimologi (bahasa), kata Maf’ul (مَفْعُوْل) merupakan Isim Maf’ul dari kata Fa’ala (فَعَلَ) yang berarti “yang dikenai pekerjaan” atau “sesuatu yang diperbuat”. Sedangkan tambahan kata Bih (بِهِ) berarti “kepadanya/dengannya”. Jadi, secara harfiah, Maf’ul Bih adalah sesuatu yang dikenai suatu tindakan.
Secara terminologi (istilah dalam Ilmu Nahwu), para ulama nahwu mendefinisikannya sebagai:
هُوَ اْلاِسْمُ الْمَنْصُوْبُ الَّذِيْ يَقَعُ عَلَيْهِ فِعْلُ الْفَاعِلِ
“Dia adalah isim (kata benda) yang dibaca manshub (salah satu tandanya adalah fathah), yang menjadi sasaran perbuatan dari si pelaku (fa’il).”
Untuk memahami definisi ini, mari kita bedah tiga poin penting yang ada di dalamnya:
- Harus Berupa Isim (Kata Benda): Maf’ul bih tidak pernah berbentuk fi’il (kata kerja) maupun huruf.
- Harus Manshub: Ini adalah hukum asal (hukum i’rab) dari Maf’ul Bih. Dia tidak boleh dibaca marfu’ (dhammah) atau majrur (kasrah).
- Menjadi Sasaran Perbuatan (Yaqau ‘Alaihi Fi’lul Fa’il): Isim tersebut merupakan objek yang menerima dampak langsung dari aktivitas yang dilakukan oleh Fa’il (subjek).
Contoh Dasar:
Perhatikan kalimat berikut:
$$\text{قَرَأَ زَيْدٌ الكِتَابَ}$$(Qara’a Zaidun al-Kitāba)
Artinya: “Zaid telah membaca buku itu.”
- قَرَأَ (Qara’a): Fi’il (Kata kerja / Predikat) $\rightarrow$ Aktivitas membaca.
- زَيْدٌ (Zaidun): Fa’il (Pelaku / Subjek) $\rightarrow$ Orang yang membaca.
- الكِتَابَ (Al-Kitāba): Maf’ul Bih (Objek) $\rightarrow$ Sesuatu yang dibaca oleh Zaid.
Perhatikan harakat akhir dari kata الكِتَابَ, ia berharakat fathah karena berkedudukan sebagai Maf’ul Bih yang manshub.
2. Kedudukan Maf’ul Bih dalam Jumlah Fi’liyyah
Dalam sintaksis bahasa Arab, sebuah kalimat yang diawali dengan kata kerja disebut dengan Jumlah Fi’liyyah. Struktur dasar dari jumlah fi’liyyah yang membutuhkan objek adalah:
$$\text{Fi’il (Kata Kerja)} + \text{Fa’il (Subjek)} + \text{Maf’ul Bih (Objek)}$$
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua kata kerja membutuhkan Maf’ul Bih. Berdasarkan kebutuhan terhadap objek, fi’il dibagi menjadi dua jenis:
- Fi’il Lazim (Intransitif): Kata kerja yang sudah cukup maknanya hanya dengan adanya subjek (fa’il), tidak memerlukan objek.
- Contoh: $\text{جَلَسَ مُحَمَّدٌ}$ (Muhammad telah duduk). Kata “duduk” tidak butuh objek.
- Fi’il Muta’addi (Transitif): Kata kerja yang maknanya belum sempurna jika belum disebutkan objeknya (mafo’ul bih).
- Contoh: $\text{أَكَلَ أَحْمَدُ}$ (Ahmad telah makan…). Kalimat ini menggantung. Makan apa? Maka butuh Maf’ul Bih, misalnya: $\text{أَكَلَ أَحْمَدُ التُّفَّاحَةَ}$ (Ahmad telah makan apel).
Maka, Maf’ul Bih hanya akan ditemukan pada kalimat-kalimat yang menggunakan Fi’il Muta’addi.
3. Pembagian Jenis-Jenis Maf’ul Bih
Ulama Nahwu membagi Maf’ul Bih menjadi beberapa kategori berdasarkan bentuk kata yang menyusunnya. Secara garis besar, Maf’ul Bih dibagi menjadi dua kelompok utama: Isim Zhahir (nyata/nampak) dan Isim Mudmar (kata ganti/dhamir).
A. Maf’ul Bih Isim Zhahir (اِسْمٌ ظَاهِرٌ)
Isim Zhahir adalah kata benda yang tampak jelas, eksplisit, dan bukan merupakan kata ganti. Bentuknya bisa berupa isim mufrad (tunggal), muthanna (ganda), maupun jamak.
- Isim Mufrad: $\text{شَرِبَ الطِّفْلُ اللَّبَنَ}$ (Anak kecil itu meminum susu).
- Isim Muthanna: $\text{كَتَبَ الطَّالِبُ دَرْسَيْنِ}$ (Siswa itu menulis dua pelajaran).
- Jamak Mudzakkar Salim: $\text{كَرَّمَ المُدِيْرُ المُعَلِّمِيْنَ}$ (Kepala sekolah menghormati para guru [laki-laki]).
- Jamak Muannats Salim: $\text{خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ}$ (Allah menciptakan langit-langit).
B. Maf’ul Bih Isim Mudmar / Dhamir (اِسْمٌ مُضْمَرٌ)
Isim Mudmar adalah Maf’ul Bih yang berbentuk kata ganti (Pronoun). Bentuk dhamir ini kemudian dipecah lagi menjadi dua macam, yaitu Dhamir Muttashil (bersambung) dan Dhamir Munfashil (terpisah).
1. Dhamir Muttashil (الضَّمِيْرُ المُتَّصِلُ)
Yaitu kata ganti yang melekat atau menempel langsung di akhir kata kerja (fi’il). Ada 12 dhamir muttashil yang bisa menempati posisi Maf’ul Bih (disebut juga Dhamir Nashab Muttashil):
| Dhamir | Arti | Contoh Kalimat | Arti Kalimat |
| ـنِي (Ni) | Aku / Me-ku | $\text{نَصَرَنِيْ}$ (Nasharanii) | Dia telah menolongku |
| ـنَا (Na) | Kami / Me-kami | $\text{نَصَرَنَا}$ (Nasharanaa) | Dia telah menolong kami |
| ـكَ (Ka) | Kamu (Lk) | $\text{نَصَرَكَ}$ (Nasharaka) | Dia telah menolongmu (lk) |
| ـكِ (Ki) | Kamu (Pr) | $\text{نَصَرَكِ}$ (Nasharaki) | Dia telah menolongmu (pr) |
| ـكُمَا (Kuma) | Kamu berdua | $\text{نَصَرَكُمَا}$ (Nasharakuma) | Dia telah menolong kalian berdua |
| ـكُمْ (Kum) | Kalian (Lk) | $\text{نَصَرَكُمْ}$ (Nasharakum) | Dia telah menolong kalian (lk) |
| ـكُنَّ (Kunna) | Kalian (Pr) | $\text{نَصَرَكُنَّ}$ (Nasharakunna) | Dia telah menolong kalian (pr) |
| ـهُ (Hu) | Dia (Lk) | $\text{نَصَرَهُ}$ (Nasharahu) | Dia telah menolongnya (lk) |
| ـهَا (Ha) | Dia (Pr) | $\text{نَصَرَهَا}$ (Nasharaha) | Dia telah menolongnya (pr) |
| ـهُمَا (Huma) | Mereka berdua | $\text{نَصَرَهُمَا}$ (Nasharahuma) | Dia telah menolong mereka berdua |
| ـهُمْ (Hum) | Mereka (Lk) | $\text{نَصَرَهُمْ}$ (Nasharahum) | Dia telah menolong mereka (lk) |
| ـهُنَّ (Hunna) | Mereka (Pr) | $\text{نَصَرَهُنَّ}$ (Nasharahunna) | Dia telah menolong mereka (pr) |
2. Dhamir Munfashil (الضَّمِيْرُ المُنْفَصِلُ)
Yaitu kata ganti yang berdiri sendiri, terpisah dari fi’il-nya. Biasanya diawali dengan kata إِيَّا (Iyya). Sama seperti muttashil, jumlahnya ada 12:
- إِيَّايَ (Hanya kepada-ku)
- إِيَّانَا (Hanya kepada-kami)
- إِيَّاكَ (Hanya kepada-mu [lk]) $\rightarrow$ Contoh populer: $\text{إِيَّاكَ نَعْبُدُ}$ (Hanya kepada-Mu kami menyembah).
- إِيَّاكِ (Hanya kepada-mu [pr])
- إِيَّاكُمَا (Hanya kepada kalian berdua)
- إِيَّاكُمْ (Hanya kepada kalian [lk])
- إِيَّاكُنَّ (Hanya kepada kalian [pr])
- إِيَّاهُ (Hanya kepada-nya [lk])
- إِيَّاهَا (Hanya kepada-nya [pr])
- إِيَّاهُمَا (Hanya kepada mereka berdua)
- إِيَّاهُمْ (Hanya kepada mereka [lk])
- إِيَّاهُنَّ (Hanya kepada mereka [pr])
4. Tanda-Tanda I’rab Maf’ul Bih (Tanda Nashab)
Meskipun hukum dasar Maf’ul Bih adalah manshub, tanda nashab-nya tidak selalu berupa harakat fathah. Tanda tersebut berubah-ubah tergantung pada jenis isim yang digunakan. Ini adalah bagian yang sangat krusial dalam Ilmu Nahwu agar tidak salah dalam melafalkan akhiran kata.
Berikut adalah tabel matriks tanda-tanda nashab untuk Maf’ul Bih:
| No | Jenis Isim | Tanda Nashab | Contoh Kedudukan Maf’ul Bih |
| 1 | Isim Mufrad (Tunggal) | Fathah | $\text{رَأَيْتُ زَيْدًا}$ (Fathah di akhir kata Zaidan) |
| 2 | Jamak Taksir (Jamak tidak beraturan) | Fathah | $\text{قَرَأْتُ الكُتُبَ}$ (Fathah pada kata Al-Kutuba) |
| 3 | Isim Muthanna (Dua/Dual) | Huruf Ya’ (ي) | $\text{اشْتَرَيْتُ كِتَابَيْنِ}$ (Menggunakan Ya’ sebelum nun) |
| 4 | Jamak Mudzakkar Salim | Huruf Ya’ (ي) | $\text{رَأَيْتُ المُسْلِمِيْنَ}$ (Menggunakan Ya’ sebelum nun) |
| 5 | Jamak Muannats Salim | Kasrah | $\text{خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ}$ (Al-Samawati memakai kasrah) |
| 6 | Asmaul Khamsah (Isim yang lima) | Huruf Alif (أ) | $\text{رَأَيْتُ أَبَاكَ}$ (Menggunakan Alif pada kata Abaaka) |
Penjelasan Detail Kasus Khusus:
- Jamak Muannats Salim: Ini adalah pengecualian yang paling sering menjebak pelajar Nahwu. Jamak Muannats Salim (kata benda jamak perempuan berakhiran alif dan ta’) tidak pernah menerima fathah saat manshub. Contohnya dalam Al-Qur’an: $\text{خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ}$ (Khalaqallahu al-samawaati). Kata Al-Samawati berharakat kasrah di ujungnya meskipun ia adalah Maf’ul Bih.
- Asmaul Khamsah: Isim-isim seperti Abu (Ayah), Akhu (Saudara), Hamu (Ipar), Fu (Mulut), dan Dzu (Pemilik) tanda nashabnya adalah alif. Jadi, jika diubah menjadi objek, “Abu” berubah menjadi “Aba”, contoh: $\text{رَأَيْتُ أَبَاكَ}$ (Aku melihat ayahmu).
5. Variasi Posisi Maf’ul Bih dalam Kalimat
Secara urutan normal (Asal), susunan kalimat adalah: Fi’il $\rightarrow$ Fa’il $\rightarrow$ Maf’ul Bih. Namun, bahasa Arab fleksibel. Urutan ini bisa berubah karena alasan penekanan makna (balaghah) atau karena hukum tata bahasa yang mewajibkannya.
A. Maf’ul Bih Mendahului Fa’il (Fi’il + Maf’ul Bih + Fa’il)
Kondisi ini terjadi ketika objek diletakkan sebelum subjek. Pergeseran ini bisa bersifat boleh (jaiz) atau wajib (wajib).
- Contoh Boleh (Jaiz):$$\text{قَرَأَ الكِتَابَ زَيْدٌ}$$(Qara’a al-kitaba Zaidun)Artinya tetap sama: “Zaid membaca buku.” Di sini, Al-Kitaba (Maf’ul bih) mendahului Zaidun (Fa’il). Kita tahu mana subjek dan objeknya dari harakatnya (Zaidun ber-dhammah maka dia pelaku, Al-Kitaba ber-fathah maka dia objek).
- Contoh Wajib:Jika Fa’il memiliki dhamir (kata ganti) yang kembali kepada Maf’ul Bih.$$\text{سَكَنَ الدَّارَ صَاحِبُهَا}$$(Sakana ad-daara shaahibuhaa)Artinya: “Telah tinggal di rumah itu pemiliknya.”Kata Ad-daara (Rumah) adalah Maf’ul Bih yang wajib didahulukan karena pada kata Shaahibuha (Fa’il) terdapat dhamir haa yang kembali ke rumah.
B. Maf’ul Bih Mendahului Fi’il dan Fa’il (Maf’ul Bih + Fi’il + Fa’il)
Ini adalah tingkatan pergeseran yang paling ekstrem, di mana objek ditaruh paling depan di awal kalimat.
- Contoh Populer:$$\text{إِيَّاكَ نَعْبُدُ}$$(Iyyāka na’budu)Artinya: “Hanya kepada-Mu lah kami menyembah.”Asal kalimatnya adalah $\text{نَعْبُدُكَ}$ (Na’buduka – Kami menyembah-Mu). Ketika dhamir Ka dipindah ke depan, ia berubah menjadi Iyyaka. Dalam kaidah balaghah, mendahulukan objek di awal kalimat berfungsi untuk Al-Hashr wal Qashr (Pengkhususan/Pembatasan). Maknanya berubah dari sekadar “Kami menyembah-Mu” menjadi eksklusif “Hanya kepada-Mu kami menyembah, tidak kepada yang lain.”
6. Fi’il yang Membutuhkan Lebih dari Satu Maf’ul Bih
Ada beberapa kata kerja (fi’il muta’addi) yang tingkat transitifnya tinggi, sehingga mereka tidak cukup hanya dengan satu objek saja untuk membentuk kalimat yang sempurna. Fi’il jenis ini membutuhkan dua bahkan tiga Maf’ul Bih.
A. Fi’il yang Membutuhkan Dua Maf’ul Bih
Fi’il kelompok ini dibagi lagi menjadi dua jenis:
1. Asalnya adalah Mubtada’ dan Khabar (Af’alul Qulub & Af’alut Tasykhir)
Kata kerja jenis ini jika kedua objeknya diambil dan dipisahkan, mereka bisa membentuk kalimat nominatif (Mubtada’ + Khabar) yang mandiri. Contoh katanya: $\text{ظَنَّ}$ (menyangka), $\text{رَأَى}$ (melihat/meyakini), $\text{حَسِبَ}$ (mengira), $\text{جَعَلَ}$ (menjadikan).
- Contoh: $\text{ظَنَنْتُ الِامْتِحَانَ سَهْلًا}$ (Dhanantul imtihaana sahlan)
- ظَنَنْتُ: Fi’il & Fa’il (Aku menyangka)
- الِامْتِحَانَ: Maf’ul Bih 1 (Ujian itu)
- سَهْلًا: Maf’ul Bih 2 (Mudah)
- Catatan: Jika kalimat dipotong menjadi “الِامْتِحَانُ سَهْلٌ” (Ujian itu mudah), ia menjadi kalimat Mubtada’-Khabar yang sah.
2. Asalnya BUKAN Mubtada’ dan Khabar
Kata kerja yang memberikan sesuatu. Contoh katanya: $\text{أَعْطَى}$ (memberi), $\text{كَسَا}$ (memakaikan), $\text{سَأَلَ}$ (meminta).
- Contoh: $\text{أَعْطَى الأُسْتَاذُ الطَّالِبَ جَائِزَةً}$ (A’thal ustadzu ath-thaaliba jaa-izatan)
- أَعْطَى: Fi’il (Memberi)
- الأُسْتَاذُ: Fa’il (Ustadz)
- الطَّالِبَ: Maf’ul Bih 1 (Murid)
- جَائِزَةً: Maf’ul Bih 2 (Hadiah)
- Catatan: Jika dipisah, “Murid hadiah” tidak membentuk kalimat Mubtada’-Khabar yang logis.
B. Fi’il yang Membutuhkan Tiga Maf’ul Bih
Ini adalah kasus yang cukup jarang namun ada dalam gramatika Arab. Contoh fi’ilnya adalah $\text{أَعْلَمَ}$ (memberitahukan) dan $\text{أَنْبَأَ}$ (mengabarkan).
- Contoh: $\text{أَعْلَمْتُ زَيْدًا العَمَرَ قَائِمًا}$ (A’lamtu Zaidan ‘Amaran qaa-iman)
- Artinya: “Aku memberitahukan Zaid bahwa Amar itu berdiri.”
- Zaidan = Maf’ul 1, ‘Amaran = Maf’ul 2, Qaa-iman = Maf’ul 3.
7. Studi Kasus: Analisis I’rab Maf’ul Bih dalam Al-Qur’an
Untuk memantapkan pemahaman praktis, mari kita lakukan I’rab (analisis tata bahasa) terhadap beberapa ayat populer di dalam Al-Qur’an yang mengandung Maf’ul Bih.
Kasus 1: Surat Al-Fatihah Ayat 5
$$\text{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}$$
- إِيَّاكَ (Iyyāka): Ditafsirkan sebagai Dhamir munfashil mabni ‘ala al-fath fi mahalli nashbin, Maf’ul bih muqaddam (Kata ganti terpisah yang menempati posisi nashab sebagai Objek yang didahulukan).
- نَعْبُدُ (Na’budu): Fi’il mudhari’ marfu’ dengan tanda dhammah di akhirnya, dan Fa’il-nya adalah dhamir mustatir (tersembunyi) yang takdirnya adalah $\text{نَحْنُ}$ (Kami).
Kasus 2: Surat Al-Baqarah Ayat 22
$$\text{الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا}$$
- جَعَلَ (Ja’ala): Fi’il madhi (Kata kerja masa lampau).
- الْأَرْضَ (Al-Ardha): Maf’ul Bih Pertama (Manshub dengan tanda fathah).
- فِرَاشًا (Firaasyaat): Maf’ul Bih Kedua (Manshub dengan tanda fathah). Karena fi’il Ja’ala di sini bermakna “menjadikan/mengubah sesuatu”, maka ia membutuhkan dua objek.
8. Perbedaan Maf’ul Bih dengan Jenis-Jenis Maf’ul Lainnya
Dalam Ilmu Nahwu, keluarga “Maf’ul” (المفاعيل الخمسة) itu ada lima bersaudara. Pemula sering kali tertukar antara satu maf’ul dengan maf’ul lainnya. Berikut adalah tabel komparasi cepat untuk membedakannya:
| Nama Maf’ul | Fungsi Utama dalam Kalimat | Contoh Ringkas | Penjelasan Contoh |
| Maf’ul Bih | Menunjukkan Objek penderita | $\text{ضَرَبْتُ الكَلْبَ}$ | Al-Kalba adalah yang dipukul (Objek) |
| Maf’ul Mutlaq | Menegaskan fi’il / menyatakan jumlah | $\text{ضَرَبْتُ ضَرْبًا}$ | Dharban berfungsi menegaskan pukulan |
| Maf’ul Li-ajlih | Menjelaskan Alasan / Motivasi | $\text{قُمْتُ إِجْلَالًا لَكَ}$ | Ijlaalan (karena menghormatimu) |
| Maf’ul Fiih | Menunjukkan Waktu / Tempat (Zharaf) | $\text{صُمْتُ يَوْمَ الخَمِيْسِ}$ | Yauma menunjukkan waktu (Hari Kamis) |
| Maf’ul Ma’ah | Menunjukkan Kebersamaan (setelah wawu) | $\text{سِرْتُ وَالجَبَلَ}$ | Al-Jabala bermakna “bersama/sepanjang gunung” |
9. Manfaat Memahami Konsep Maf’ul Bih
Mengapa kita harus bersusah payah mempelajari variasi dan tanda i’rab dari Maf’ul Bih? Berikut adalah benefit krusial yang akan Anda dapatkan:
- Menghindari Kesalahan Fatal Makna Al-Qur’an: Salah harakat dalam bahasa Arab bisa merusak akidah. Contoh ekstrim ada pada surat At-Taubah ayat 3: $\text{أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ}$. Jika kata Rasuluhu salah dibaca majrur (Rasulihi), maknanya bisa sesat (Allah berlepas diri dari orang musyrik dan dari Rasul-Nya). Pengetahuan i’rab menjaga kemurnian makna ini.
- Kemampuan Membaca Kitab Gundul (Kitab Kuning): Kitab klasik Islam tidak memiliki harakat (gundul). Dengan memahami mana yang bertindak sebagai subjek (fa’il) berharakat dhammah dan mana objek (maf’ul bih) berharakat fathah, Anda bisa membaca teks tersebut dengan mengalir dan logis.
- Keterampilan Menulis (Insha’) yang Balaghah: Anda bisa menyusun kalimat bahasa Arab yang tidak monoton. Anda bisa memindahkan posisi objek ke depan untuk memberikan efek dramatis atau penekanan nilai estetika pada teks yang Anda buat.
Kesimpulan
Maf’ul Bih bukan sekadar “objek” biasa dalam struktur bahasa Arab. Ia adalah komponen dinamis yang memiliki aturan i’rab yang mengikat—tergantung pada struktur kata bendanya apakah berbentuk mufrad, jamak, maupun dhamir. Melalui pemahaman yang mendalam tentang jenis, tanda i’rab, serta fleksibilitas posisinya dalam kalimat, kita dapat membuka pintu pemahaman yang lebih luas terhadap teks-teks berbahasa Arab, terkhusus kalamullah Al-Qur’anul Karim.
Metode terbaik untuk menguasai materi Maf’ul Bih ini adalah dengan sering melakukan tathbiq (praktik analisis langsung) setiap kali Anda membaca mushaf Al-Qur’an atau kitab hadits. Selamat belajar!
